Friday, November 6, 2009

Bibit , evan brimob, POLRI dan rakyatnya

Pada suatu hari seseorang mendatangi seorang sahabat rasul SAW, untuk mengeluhkan keadaan khalifahan yang serba kacau, di merasa pusing dan sengsara akibat para aparat dan pemeritahan saat itu egak pada benar, dia bilang andaikan dia hidup dijaman rasullah SAW tentu dia akan lebih bahagia dan nyaman karena tidak akan menghadapi para aparat dan pemerintahan yang egak benar. alih-alih menenangkan dan menghibur orang tersebut sahabat rasullah SAW malah bilang keorang tersebut bahwa jaman dahulu ketika rasullah SAW masih hidup semua emang terasa nyaman, pemerintahan teratur dan berjalan dengan baik, aparat menjalankan tugasnya dengan baik, itu semua terjadi karena egak ada orang seperti kamu (si pelapor), yang lebih suka mengeritik dibanding berkaca, lebih suka mengeluh dibanding bersukur, lebih suka menyalahkan dibanding memperbaiki dan lebih suka menuntut/meminta dibanding memberi. akhirnya orang tersebut meninggalkan sahabat rasullah SAW dengan muka merah.

coba bayangkan keadaan indonesia saat ini, facebook, berita penuh dengan isu Bibit, evan brimob, POLRI vs KPK. saya egak tau gimana kisah yang sebenarnya karena egak sempat baca berita atau nonton TV untuk kaya ginian, tapi berdasarkan gosip dari temen disekitar tempat kerja,kayanya cerita diatas yang baru saya dapet beberapa minggu lalu dari istri saya sangat relevan.

Tuesday, September 15, 2009

Love

Suatu hari ketika lagi jalan bareng dengan seorang teman di daerah jalan pahlawan bandung, tiba-tiba teman saya bertanya "pernah jatuh cinta gak?", karena saya bengong pertanyaannya di permudah "dul cinta itu menurutmu apa?".…….. :O.

Pertanyaan yang membingungkan, biasanya jika dapet pertanyaan yang belum saya pahami, saya bertanya "code errornya apa?" atau "ada Exception gak?" atau "Stack Traces nya menuju code apa?", kadang jika itu menyangkut sesuatu yang sudah umum, saya cari nomer RFC-nya.

Setelah selesai shocknya, yang terbayang oleh saya adalah kata-kata sufi yang sering bapak saya sebutkan " من يحب شيء فاكثيرمن ذكره" artinya kurang-lebih "barang siapa yang mencintai Sesuatu maka dia bakal sering menyebutnya", tapi masalahnya itu berkaitan dengan ke-cintaan kita terhadap 4JJI, yang ditanyakan sekarang pasti bukan tentang cinta mahluk dengan Penciptanya, terus saya inget kata-kata temen saya yang mengutip kata-kata khalil gibran "berikan cinta seperti yang diinginkannya", yang ini juga walaupun selalu inget saya egak ngerti maksudnya apa, terus aku inget lagu waktu TK

kasih ibu kepada beta,

tak terkira sepanjang masa,

hanya memberi tak harap kembali,

bagai sang surya menyinari dunia.

dibenakku "ini kayanya sedikit mendekati apa yang dimaksud temenku", akhirnya saya jawab "aku sering jatuh cinta", melihat wajah temen saya agak bengong saya teruskan kata2 saya, "cinta itu kan ketika kita berusaha memberikan yang terbaik untuk seseorang, kalau saya ngajar saya memberikan yang terbaik untuk siswa saya, ketika ngerjain proyek saya memberikan yang terbaik untuk klien" jadi saya sering jatuh cinta, pembicaraan pun berlanjut menjadi perdebatan yang sengit tapi menyenangkan sampai membahas konsep TTM (Teman Tapi Mesra) segala, tapi akhirnya ada kesimpulan bahwa mencintai adalah tentang "memberi" bukan "menerima" juga bukan tentang "memiliki".

Sekitar setahun kemudian diskusi yang mirip terjadi, waktu itu saya sedang mejeng disebuah hotel di Bandung bersama istri saya yang baru saya nikahi 1 hari, sambil makan pagi dia membuka pembicaraan dengan pertanyaan "AA cinta saya egak?" walaupun baru kenal beberapa hari dengan istri saya, tapi saya yakin bisa bicara bebas apa adanya dengan dia, jadi saya jawab "egak tahu, kamu sendiri gimana?" kemudian dia bilang "gak tahu, emang cinta itu gimana/apa A?". mulai tampak keserasian antara kami, sama awam tentang "ABG stuff". kami pun mulia diskusi tentang apa itu cinta, istri saya banyak menceritakan konsep cinta dari tokoh idolanya terutama Siti Robiatul Adawiah, saya pun tidak mau kalah menyampaikan konsep2 yang pernah saya dengar dari bapak saya, yang kebetulan namanya sama dengan ulama yang jatuh cinta dan sering berdebat dengan Siti Robiatul Adawiah, Hasan Basry.

Side Story: kisah Siti Robiatul Adawiah memiliki makna khusus bagi pernikahan kami, waktu saya berhasil meyakinkan istri saya bahwa saya serius ngajak dia menikah (walaupun pake YM), tapi terakhir dia tetap menolak, dengan alasan dia mau nerusin S-2 dan waktu itu memang sudah terdaftar di sebuah universitas di Belanda, ketika saya tanya terus kamu mau nikah kapan, dia bilang gak ada rencana nikah :O, terus saya bilang nikah itu kan sunat rasul SAW, kalau egak nikah gak akan diaku ummatnya, dia jawab Siti Robiatul Adawiah juga egak nikah,beberapa waktu/hari kemudian saya dapat referensi bahwa Siti Robiatul Adawiah adalah seorang janda, saya ceritakan pada istri saya (waktu itu masih balon istri), akhirnya dia setuju untuk menikah dengan saya. giliran saya bingung karena bulan depannya dia mau pergi ke Belanda.

Kembali ke topik semula, sampai sekarang saya telah memiliki buah cinta bernama Muhammad Varrat Taqy, saya masih bingung dengan apakah cinta, walaupun ada definisinya di kamus favorit saya, tapi tak satu definisi yang cocok menurut saya. mungkin cinta itu adalah api sudah dirasakan/dikenal oleh manusia sejak dulu bahkan merupakan elemen dasar yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia seperti halnya air, udara dan tanah, tapi tidak seperti air,udara dan tanah ahli kimia dan fisika bisa mendefiniskan air,udara dan tanah, bahkan ada rumus kimianya. api sampai sekarang belum bisa didefinisikan oleh para ahli tersebut, mereka hanya tahu apa yang bagaimana api muncul, apa akibatnya dan apa yang dibutuhkannya. bukan kah seperti itukah kita mengenal cinta, hanya tahu bagaimana munculnya, apa akibatnya dan apa yang dibutuhkannya.

Kalau di teliti lebih jauh lagi ternyata Api bukan Cinta, emang api sama kaya cinta bisa menghangatkan dalam jumlah yang cukup tapi bisa membakar jika jumlahnya berlebihan, api sama kaya cinta bisa hilang kalau kehabisan bahan bakar, bisa muncul tiba. Tapi…..tapi semua orang termasuk ahli fisika bisa sepakat apa yang dibutuhkan api (oksigen dan bahan bakar), sedangkan cinta belum ada kesepakatan apa yang dibutuhkan cinta, ada yang bilang "seks", ada yang bilang "uang", ada yang bilang "ketulusan", ada yang bilang "kebutuhan" seperti yang dibilang naushal "I need you because I love you, not I love you because I need you", ada yang bilang "pengorbanan", ada yang bilang "kesetiaan", ada yang bilang "rasa memiliki" dan masih banyak lagi.

Jika definisinya belum jelas, kenapa cinta mesti mempengaruhi hal penting seperti pernikahan, banyak novel, cerpen, film dan sinetron yang menceritakan bagaimana pernikahan bisa terjadi atau batal karena cinta, padalah dalam kenyataannya cinta tidak selalu berpengaruh dalam keputusan pernikahan atau pun sakinahnya sebuah keluarga, coba tanya nenek dan kakek kita, apakah mereka memikirkan cinta saat menikah dulu. saya punya saudara yang kabur dari rumah karena mau dinikahkan dengan orang yang tidak dia cintai, sekarang dia sudah punya anak 3 dan sebentar lagi mau punya cucu, secara umum keluarganya sakinah dan kalau ditanya boleh gak suaminya nikah lagi, dia ngamuk sebagai tanda dia cemburu, cemburu hasil dari cinta. jadi kenapa acara TV penuh dengan lagu dan senetron tentang cinta?, kenapa ada remaja yang bunuh diri karena cinta? dan kenapa iwan fals bilang "kalau cinta tak menyatukan kita, biarkan aku menyayangimu".

Mungkin sifat misterius cinta yang membuat sepanjang zaman menjadi bahan pembicaraan. atau cinta emang hasil rekayasa para pujangga supaya mereka bisa lebih mudah menjual karyanya, andaikan Cinta tidak ditemukan, romeo dan juliet tidak perlu mati, perang bubat tidak perlu terjadi, laili tidak perlu "maznun", dan yang paling penting egak usah cape-cape bikin blog ini :p. I Love You Full….. wassalam

Saturday, September 12, 2009

Indonesia adalah negara islam?

Pertanyaan lucu, sederhana tapi bisa bikin perang…..sebelumnya saya mohon maaf, jika ada yang keberatan dengan tulisan ini, dan saran/komentar saya tunggu

Jawaban saya akan pertanyaan diatas adalah iya.

Pertanyaan ini muncul dalam benak saya, ketika mendengar cerita salah satu mantan aktifis HMI tentang perpecahan HMI, waktu awal orde-baru berkuasa semua organisasi harus berazas tunggal PANCASILA atau bubar. HMI waktu itu berazas syariat islam, terjadilah perpecahan ada yang terpaksa ikut azas PANCASILA demi kelangsungan hidup HMI, kalangan ini disebut HMI kuning, karena beberapa tokohnya menjadi tokoh GOLKAR, bahkan jadi mentri. kalangan yang menentang azas tunggal disebut HMI hijau, karena sebelumnya banyak aktif di masyumi yang kemudian bubar.

Perpecahan HMI dan organisasi sejenis tidak perlu terjadi jika memahami alasan saya mengapa "Indonesia adalah negara Islam" kenapa?

karena dasar negara kita adalah PANCASILA yang sila kesatunya adalah "ketuhanan yang Maha Esa",

maha menurut kamus besar bahasa indonesia adalah "ma·ha-
bentuk terikat
1 sangat; amat; teramat: mahabesar; mahamulia;
2 besar: mahaguru; mahasiswa

bingung? begini maksudnya kata "maha" tidak bisa berdiri sendiri, dia menjelaskan kata setelahnya. kata maha menunjukan bahwa kata selanjutnya yang dijelaskan bersifat "sangat, amat, teramat atau besar" tapi ada yang hilang dari 4 kata tersebut bahwa maha jika dikaitkan dengan tuhan bersifat absolut (tak ada tandingan, perubahan, penyimpangan selamanya). misal "Maha Tinggi" artinya "sangat tinggi, tak ada yang akan lebih tinggi selamanya" beda dengan kata "langit sangat tinggi" saat ini atau suatu saat pasti ada yang lebih tinggi dari langit. "sangat tinggi" adalah posisi tinggi yang relatif "sangat tinggi" dibumi utara akan beda dengan "sangat tinggi" dibumi selatan, dan beda dengan "sangat tinggi" dipusat bima sakti. sedangkan maha tinggi adalah posisi tinggi yang absolut, dimanapun itu selalu paling tinggi. "maha" dalam PANCASILA bukan dari bahasa arab yang artinya "bersinar", tapi merupakan pengembangan dari bahasa sangsekerta yang artinya "sangat" dan "great".

contoh lain: atom dasar pembentuk unsur tidak disebut sebagai maha dasar, kenapa? karena atom terdiri dari dasar lain proton dan electron, dan terus sejalan dengan semakin maju ilmu fisika maka akan ada yang lebih dasar.

contoh lain: misal Allah Maha Benar, artinya Allah secara absolute paling benar, dari sisi manapun, kapan pun, dimanapun, dalam kondisi apa pun Allah paling benar, jika ada yang sudut pandang/sisi yang menyatakan Allah tidak paling benar, maka sudut pandang/sisi tersebut salah.

"Ketuhanan yang Maha-Esa" artinya agama yang resmi dan menjadi azas di Indonesia adalah agama yang menganut konsep bahwa tuhan itu Maha-Esa, atau tuhan itu hanya satu tak ada tandingan, perubahan dan penyimpangan selamanya. di Indonesia agama apa yang menganut konsep bahwa, tuhan itu Maha-Esa?

Trinitas bukan Maha-Esa, kenapa karena adakalanya(dari satu sisi) dianggap satu ada kalanya (dari sisi lain) dianggap tiga, ke-esa-annya tidak absolut , lihat penjelasan tentang trinitas di sini. dan tidak semua agama nasrani setuju dengan trinitas, artinya tuhannya ada tiga, dan hanya satu yang tertinggi. jadi nasrani baik yang menganut trinitas atau tidak menurut saya tidak bisa dianggap sebagai agama yang menganut "ketuhanan yang Maha-Esa".

Bagaimana dengan hindu menurut hukum di india hindu adalah "Acceptance of the Vedas with reverence; recognition of the fact that the means or ways to salvation are diverse; and the realization of the truth that the number of gods to be worshipped is large, that indeed is the distinguishing feature of Hindu religion." ada beberapa pendapat/aliran hindu yang monotheist tapi egak ada yang tegas, jelas menyatakan siapa tuhannya yang Maha-Esa itu.

Bagaimana dengan buddha menurut kitab sucinya

"Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu."

Budha juga memiliki konsep tuhan yang berbeda dengan agama lain, kata "esa" dalam "Maha-Esa" di budha bukan berarti satu, tapi adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". jadi buddha gak bisa dibilang agama monotheist murni, bahkan disebut non-theist

Tapi hati-hati Buddha punya pancasila sendiri, yang bukan dasar negara Indonesia. Pancasila budha ini sering dikaitkan dengan Moral islam, kemiripan konsep tuhan diatas dengan surat al-ikhlas, dan pancasila buddha dengan Moral islam, mendorong beberapa ahli teologi, dan ilmuan islam/buddha menyimpulkan kalau Buddha Siddharta Gautama sebenarnya nabi/rasul bagi umat muslim, seperti halnya Isa As putra Mariam AS. hal inipun didukung dengan fakta bahwa nabi&rasul itu banyak, cuman hanya 25 yang wajid diketahui muslim. bahkan tahun 90an saya pernah membaca disebuah surat kabar (kalau egak Pikiran Rakyat atau Republika) yang menceritakan tentang adanya 11 ilmuan buddha yang melakukan riset tentang sejarah kehidupan buddha, dan akhirnya sebagian besar rame-rame masuk islam.

tapi jangan khawatir apapun dasar agama suatu negara tidak perlu khawatir, penganut agama lain akan dianiyaya, dinegara islam seperti mesir atau iran agama lain hidup dengan damai, dinegara nasrani seperti inggris dan roma, islam hidup dengan damai. yang lucu justru gereja di irak di bom oleh kumpulan pasukan bersenjata sebagian besar beragama nasrani dan inggris adalah pendukung pasukan tersebut.

jadi kesimpulannya Indonesia adalah negara islam, seperti yang disebutkan dalam piagam jakarta " Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" perubahan pada sila ke 1 yang dilakukan oleh M. Hatta seperti nya tidak mengubah Pancasila jadi sekuler, strategi yang dilakukan M. Hatta mirip yang dilakukan oleh seorang ulama dalam meloloskan diri dari hukuman mati yang akan dilakukan penguasa yang memaksa semua ulama untuk mengakui bahwa kitab Allah adalah "baru" seperti mahluk lainnya.


wass wr wb.

Friday, September 11, 2009

koreksi

Tadi malam salah seorang pembaca blog ini yang kebetulan memahami ilmu tafsir, chat dengan saya dan melakukan koreksi tentang cara saya membuat kutipan Al-Quran. Menurutnya saya melakukan pengutipan dengan cara yang tidak benar, karena sepotong-sepotong dan itu melanggar kaidah penafsiran Al-Qur'an. Apa yang dikatakan pembaca tersebut tentang pengutipan dan kaidah penafsiran memang benar, tetapi tulisan saya yang berjudul Mengenal Pesantren (blog edisi ramadhan) tidak bermaksud mengkutip apalagi menafsirkan Al-Quran, nomor surat dan ayat tersebut hanya link terhadap surat dalam Al-Quran yang menurut saya relevan dengan pernyataan saya, semua tulisan pada artikel tersebut adalah pemikiran saya. Itulah kenapa tidak ada tanda kutip (" ") dan saya menyimpannya di akhir referensi ayat tersebut diakhir, beda dengan cara penulisan tafsir Al-Quran, ayat (arab & terjemahannya) ditulis diawal, baru penafsirannya, atau pembaca tersebut menyebutnya format "deskripsi eksposisi baru argumentasi" format ini digunakan tafsir fahru razi dan tafsir sayid ibnu qutub.

Saya selalu berusaha tidak melakukan penafsiran atau perenungan langsung terhadap Al-Quran, karena dari sisi keilmuan saya jauh dari siap, saya biasanya melakuannya melalui sebuah tafsir dan itupun minta pendampingan dari orang yang memahami ilmu tafsir dengan baik. melakuan perenungan apalagi penafsiran langsung terhadap Al-Quran memiliki aturan yang ketat, untuk melakukan hal tersebut seseorang harus ahli dalam ilmu bahasa arab (nahwu, saraf dan mantik), ahli dalam bidang yang akan dijadikan sudut pandang penafsiran, dan beberapa imam mensyaratkan hapal dan paham puluhan ribu hadist (tergatung madhab). contoh tafsir fahru razi penulis tafsir tersebut menjelaskan dari sudut pandang keadaan alam dan hewan saat itu, sedangkan penulis tafsir sayid ibnu kutub menjelaskannya dari sudut pandang gejala sosial saat itu.

Saat ini memang banyak dai' atau mentor mahasiswa, yang melakukan penafsiran, renungan bahkan pengkajian Al-Quran secara langsung, biasa dilakukan dikhutbah jumat, pengajian, atau mentoring agama di kampus-kampus. Ada dua kemungkinan, pertama para dai dan mentor itu memiliki ilmu pengetahuan yang baik seperti halnya yang menulis tafsir fahru razi atau tafsir sayid ibnu qutub, kedua para dai dan mentor itu tidak tahu aturan dan nekat. silahkan cari tahu sendiri. dan jangan heran kalau belakangan ini musim aliran sesat.

Seperti halnya ilmu pengetahuan/ilmiah, ilmu agama pun mempunyai aturan-aturan untuk menghidari salah-kaprah dalam pengembangan ilmu. Dalam ilmu pengetahuan setiap hipotesis, premis dan sejenisnya harus didukung data/fakta yang empirik, baik berupa hasil uji coba, survey dll. data pun harus di jelaskan apakah primary atau secodary. jika data hasil sampling maka harus disebutkan sampling errornya, jika hasil perhitungan yang mengalami pembulatan maka harus disebutkan galatnya. ketatkan!, padahal itu hanya masalah dunia, sedangkan ilmu agama adalah malah dunia dan akhirat, jadi emang aturannya pun jauh lebih ketat, dalam ilmu agama pengembangan ilmu ini salah-satunya dengan cara ijtihad.

Sekarang ini tidak sedikit ustad2 yang dengan mudahnya menyampaikan fatwa atau melakukan ijtihad, alasannya simple, jika melakukan ijtihad ternyata benar maka mendapat dua ganjaran kebaikan, jika salah mendapat satu kebaikan, tapi lupa/tidak tahu bahwa ijtihad memilik aturan dan kalau egak sesuai aturan bisa dosa. itulah kenapa saya suka bilang yang di suruh belajar jadi dai/ustad/kiayi harus anak2 yang paling pintar dan brilian dilingkungan kita. mari kita motivasi para orang tua yang memiliki anak pintar untuk mengarahkan anaknya jadi ustad, supaya umat islam dikemudian hari egak lebih kacau dari sekarang.

aturan ijtihad berbeda2 untuk setiap madhab, madhab safii' setau saya memiliki aturan yang paling ketat, sehingga sedikit sekali peluang melakukan ijtihad.

jadi ngelantur…..maaf jika salah dan ditunggu masukannya dan waspadalah….waspadalah….wassalllam

Simple Logic

Sekitar tahun 2002 saya pergi ke kota salatiga bersama pak ibnu dan pak theo dengan tujuan cari orderan sambil nostagia ke sekolahnya pak theo dan pak ibnu, setelah sampai di salatiga abis sholat magrib saya diajak ngobrol ama pak theo sambil nunggu waktu makan malam, pembicaraan menjadi hangat ketika waktu itu pak theo, bikin pernyataan/pertanyaan yang membuat kita kaget, pernyataannya adalah "sifat seseorang tidak terpengaruh oleh agama, agama tidak bisa membuat orang jadi baik atau buruk", sebagai fisikawan pak theo memberikan data-data empiris yang mendukung pernyataannya. salah satu data yang saya ingat adalah orang yang dipenjara di Indonesia kebanyakan orang muslim, dan orang yang dipenjara di amerika latin adalah orang katolik. logika yang simple tapi bisa berdampak besar.

Seperti berusaha mematahkan argumen-argumen pak theo yang Agnosticism pak ibnu kemudian, bercerita dengan diawali pertanyaan kepada saya "iman, kamu tahu bagaimana atheist ditanamkan pada anak tk?," tanpa mengunggu saya menjawab pak ibnu bercerita, guru-guru tk dinegara atheist bertanya pada muridnya "menurut kalian tuhan itu ada egak?, katanya tuhan itu bisa mendengar dimana dan kapan pun". kemudian ada anak yang menjawab tuhan itu ada/tidak ada, selanjutnya guru tk tersebut bicara lagi "karena ada 2 pendapat yang berbeda, mari kita lakukan pembuktian dan uji coba, sekarang coba semua teriak sekeras-kerasnya dan minta pensil sama tuhan" para siswa pun serempak teriak berulang-ulang "tuhan minta pensil" setelah melihat siswa pada kecapaian kemudian sang guru bertanya "adakah yang sudah mendapatkan pensil dari tuhan?" semua siswa menjawab "tidak" kemudian sang guru bicara lagi "coba secara semua minta pensil sama ibu guru" kemudian semua anak yang hampir kehabisan suara teriak "ibu guru minta pensil" mendengar siswanya teriak begitu kemudian sang guru membagikan pensil yang memang sudah disiapkan, sambil setiap anak ditanya "jadi tuhan itu ada gak?" tentu saja semua anak menjawab "tuhan tidak ada". logika yang simple tapi bisa berdampak besar.

Tentu saja anak tk tidak menanyakan kepada si ibu guru dari mana dia dapat pensil. jika ditanyakan mungkin jawabnya kepala sekolah à yayasan à toko buku à distributor à pabrik pensilà kayu dari hutan dan carbon hasil tambang à bumi à alam semesta à big bang à bintang kembar…….mentok akhirnya yang menciptakan bintang kembar yaitu tuhan. teori manapun yang dipake pada ujungnya akan mentok dan ada proses penciptaan oleh tuhan.

Itulah logika, sebuah senjata (anugrah) dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia. logika seperti pisau bermata dua yang sangat tajam sekali. penyalah gunaan sedikit (simple) saja bisa mengakibatkan bahaya/dampak yang fatal. tidak ada bahaya yang lebih besar dari kehilangan keimanan, dan itu bisa terjadi dengan penyalah gunaan logika yang simple.

Saking hebatnya logika, banyak orang yang saat ini mendewa-dewakan logika, orang tersebut biasanya disebut "orang modern", "orang berpendidikan" atau "orang intelek", gak ada yang salah dengan semua itu, sampai logika disalah gunakan, logika biasanya digunakan untuk mencari dan membedakan alternatif yang benar dan salah. tapi setelah jelas mana yang benar dan mana yang salah, memilih tidak serta merta menjadi mudah, saat ini nafsu jadi ikut berperan, kita didorong untuk memilih yang salah, dan dilanjutkan dengan menyalah gunakan logika untuk mencari "pembenaran" atau "mengabu-abukan" antara yang benar dan salah.

Contoh, setiap muslim harusnya tahu bahwa riba itu dilarang atau haram, tapi berapa persen muslim yang berusaha menghindar dari riba?, bahkan tidak sedikit yang berburu riba dan kemudian mencari "pembenaran" dengan menyalah-gunakan logika, ini bahkan dilakukan oleh orang yang diberi gelar Kiayi Haji (K. H).

Contoh lain, kita semua pasti tahu bahwa setiap orang adalah bagian dari rantai rizki yang Allah SWT berikan ke alam ini, setiap orang berkewajiban meneruskan sebagian rizki yang dia dapat ke rantai selanjutnya melalui zakat dan sodakoh, semakin banyak yang diteruskan maka semakin lancar rantai rizki tersebut, semakin lancar rantai rizki maka akan semakin aman dan nyaman orang2 yang ada dalam rantai tersebut. tapi apa yg terjadi dengan didorongan nafsu logikanya diubah, banyak orang yang memutus atau menyendat rantai rizki tersebut demi keamanan. takut istri/suaminya tidak makan, takut anaknya tidak sekolah, takut keluarganya tidak tidur dst.

mudah-mudahan ramadhan ini membantu kita dalam melatih hawa nafsu supaya tidak menyalah-gunakan logika.

kita dan otak yang merupakan media logika kita akan menjadi tua, sedangkan nafsu tidak akan menjadi tua, mari kita latih sebelum terlambat dimana nafsu sudah terlalu kuat untuk dilatih.

Thursday, September 10, 2009

Dewasa dan Taqwa

Kamis kemarin, selesai ngajar saya mengunjungi beberapa teman-teman untuk silaturahmi dan maaf-maafan sebelum mudik lebaran. Alangkah kagetnya ketika mendapatkan salah satu teman saya yang sepertinya enggan bermaaf-maafan dengan saya, bahkan saat saya sapa dan ajak salam, dia egak membuka headset dan tidak memalingkan mukanya dari layar notebooknya, biasanya itu tanda marah dan ternyata diperkuat dengan perkataan sewot ketika saya bertanya sesuatu kepadanya.

Kejadian diatas mengingatkan saya pada kejadian malam sebelumnya, saya habis buka bareng di insan pulang agak sedikit ngantuk, saya pulang naik motor dengan kecepatan rendah (emang gak bisa ngebut), ketika sedang jalan dipasar suci tiba2 muncul motor dihadapan saya mau belok ke arah berlawanan, karena jalanan licin saya rem motor pelan2 sehingga ban depan saya sempat senggol ban depan motor yang tiba2 belok tersebut. motor yang belok tersebut adalah motor mio yang dikendarai oleh anak2 usia SMP, boncengan dengan 2 orang temannya, jadi 1 motor dinaiki 3 orang yang semuanya tidak memakai helm. Dari sisi aturan lalu lintas jelas mereka melakukan banyak kesalahan tapi karena mereka masih anak2 dan saya pun lagi egak mood marahin anak orang akhirnya saya berlalu aja, tapi alangkah kagetnya saya ketika saya berlalu salah satu anak memaki saya dengan kasar disertai jenis2 binatang yang favorit mereka. Saya berhenti dengan maksud mau sedikit mengingatkan mereka bahwa itu egak bagus, tapi saya inget perkataan salah satu bos saya yang pernah bilang "salah satu ciri ketidak dewasaan adalah ketika kita salah, terus kita marah ke orang yang berusahan membenarkan kesalahan kita", akhirnya saya lanjutkan perjalanan saya pulang dan tidur.

seperti ketaqwaan seseorang, kedewasaan seseorang juga turun naik. mudah-mudahan ramadhan kali ini bisa membantu melatih kita supaya tidak banyak turun dibanding naik….maaf lahir batin…….met lebaran

Friday, August 21, 2009

Mengenal Pesantren (blog edisi ramadhan)

Jika saya tulis blog ini dua puluh tahun lalu, mungkin akan dianggap aneh, selain waktu itu belum ada yang namanya blog, juga waktu itu akan terlihat aneh jika ada orang yang tidak tahu apa itu pesantren, sekarang banyak sekali kenalan saya yang muslim yang seumur hidupnya belum pernah ke pesantren bahkan tidak tahu apa itu pesantren.

Istilah pesantren beberapa tahun terakhir agak lumayan muncul ke permukaan, pertama karena ada lagu kasidah berjudul "suasana dikota santri" yang dinyanyikan ulang oleh kelompok musik terkenal Gigi, kedua adanya pesantren yang cukup unik, heboh dan penomenal yang dipimpin oleh satu-satunya kiayi yang masuk majalah Time, K.H Abdulah Gymnasiar, ketiga beberapa waktu ini persiden negara adi kuasa senang menyebut pesantren tapi sayang dalam konteks sebagai sarang dan pencetak para pelaku yang mengakibatkan rasa takut.

Pesantren merupakan istilah/sebutan untuk lembaga/organisasi yang menyelenggarakan pendidikan agama islam, beda dengan sekolah formal seperti SD, SMP dll; di pesantren biasanya siswa diharuskan untuk menginap (full day-night school /boarding school), itulah kenapa pesantren sering disebut pondok pesantren.

Saat ini dikenal dua jenis pesantren yaitu; pesantren salaf/tradisional dan pesantren modern. hal utama yang membedakan dua jenis pesantren tersebut adalah sertifikat atau izasah, pesantren modern biasanya menyatukan pendidikan agamanya dengan pendidikan sekolah formal (ini istilah yang kurang tepat) sehingga siswa bisa mendapatkan sertifikat/izasah yang diakui departemen pendidikan/agama untuk melanjutkan sekolah di sekolah formal. Pesantren salaf tidak mengenal sertifikat/izasah, tolak ukur sukses bagi siswa di pesantren jenis ini adalah jika sudah bisa mengajar atau mendirikan pesantren.

Tolak ukur keberhasilan yang berbeda juga mengakibatkan waktu belajar di dua jenis pesantren tersebut berbeda. Di Pesantren modern lama belajar biasanya sama dengan sekolah formal (SMP/SMA) kadang ditambah masa pengabdian selama 1 tahun, sedangkan di pesantren salaf masa belajar tergantung kebutuhan dan kemampuan siswa, 15-25 tahun adalah hal biasa untuk bisa menjadi seorang kiayi pemula, memang terlihat lama, tapi ini bukan karena metode belajar yang kurang efektif, ini karena selain faktor knowledge dan skill di pesantren salaf faktor character building, attitude dan kesiapan mental untuk terjun ke masyarakat sangat diperhatikan. Hal ini juga mengakibatkan perbedaan dalam pola pendidikan, di pesantren modern biasanya siswa sebisa mungkin dijauhkan dari masyarakat sampai dia lulus, sedangkan di pesantren tradisional, siswa yang sudah cukup senior sesegera mungkin dilatih untuk membaur dengan masyarakat, biasanya diminta pimpinan pesantren untuk mengajar diberbagai pengajian sekitar pesantren atau di kampung halamannya.

Pesantren biasanya dipimpin oleh guru/pengajar yang paling pintar dan senior yang biasanya mendapat sebutan kiayi. karena kebanyakan sudah melaksanakan ibadah haji jadi suka disatukan Kiayi Haji atau disingkat K.H. pemimpin pesantren biasanya bersifat turun-temurun seperti kerajaan, seperti juga sebuah kerajaan hal ini kadang juga mengakibatkan perpecahan dalam pesantren.

Siswa yang belajar di pesantren disebut santri (santriwan/santriwati), di pesantren salaf ada istilah santri kalong (kelelawar), sesuai namanya, yaitu yang datang ke pesantren malam hari aja atau siang hari aja untuk mengaji. beberapa pesantren salaf tidak menerima santri seperti ini karena selain tidak efektif juga kadang-kadang menimbulkan masalah karena egak bisa diawasi secara penuh oleh pesantren.

Biaya pendidikan dipesatren modern biasanya sudah diatur dengan jelas, uang pendidikan, biaya makan dan dll. sedangkan di pesantren tradisional biaya biasanya tergantung kesadaran/kemampuan orang tua siswa, kadang yang diwajibkan hanya uang listrik atau air jika uang kiayi dan donatur tidak cukup, bahkan tidak sedikit pesantren tradisional yang biaya operasinya 100% ditanggung kiayi atau donatur. karena perbedaan diatas pengajar di pesantren modern biasanya mendapatkan gaji yang tetap dan tunjangan-tunjangan, sedangkan pengajar di pesantren salaf tidak mendapatkan gaji alias suka-rela. dibeberapa tempat ada tradisi kalau abis pulang kampung/liburan para santri suka memberikan oleh2 kepada pak kiayi, biasanya makanan khas dari tempat asal santri dan tidak jarang di sertai pakaian atau uang.

Kondisi pesantren saat ini sebagian besar memprihatinkan, terutama pesantren salaf sudah banyak sekali pesantren salaf yang bubar, berubah jadi pesantren modern atau menjadi sekolah biasa. Banyak sekali hal yang mengakibatkan hal ini terjadi terutama semakin rendahnya minat orang tua muslim di Indonesia untuk mamasukan anaknya ke pesantren terutama ke pesantren salaf, bahkan beberapa pesantren salaf sekarang hanya menjadi tempat penampungan anak yang egak mampu membayar biaya sekolah formal atau anak bermasalah korban narkoba. Kondisi ini tentu tragis karena tujuan pesantren adalah menciptakan para kiayi yang akan menjadi pimpinan&panutan umat. Jadi wajar kalau sekarang amat sangat sulit sekali menemukan kiayi seperti Hamka, Kiayi Muhammad Agus Salim. Anak yang masuk pesantren harusnya adalah anak terbaik dan terpilih yang nantinya biasa membantu dan membimbing masyarakat.

Saya sering sekali mendengar ungkapan "aduh anaknya pintar, sayang sekali kenapa egak disekolahkan supaya jadi insinyur, dokter, dosen dsb", atau "Anakmu pintar masukin aja ke ITB, UI, UGM, Oxford, Harvard MIT dll" tapi hampir tidak pernah saya mendengar ungkapan "Anaknya pintar pesatrenin aja supaya jadi kiayi". Padahal kalau saya tanya semua orang pasti pingin masuk surga, untuk masuk surga harus jadi orang soleh(ah), untuk soleh(ah) harus tahu dan paham ilmu agama, untuk paham ilmu agama butuh bimbingan kiayi yang berkualitas. tanggu jawab kiayi jauh lebih besar dibanding orang lulusan Oxford, Harvard atau ITB, coba pikirkan berapa banyak orang yang bisa diobati dokter, berapa banyak orang yang mendengarkan seminar yang di sampaikan fakar IT, fakar Kesehatan, fakar ekonomi bandingkan dengan jumlah orang yang mendengarkan dakwah yang disampaikan kiayi. pernahkan mendengar istilah "dokter sejuta umat" atau "programmer sejuta umat" atau "ekonom sejuta umat" tapi pasti pernah mendengar "kiayi sejuta umat". pernah mendengar "mahasiswa mati demi ekonom" atau "pemuda mati demi system analyst" atau "perawat mati demi dokter". banyak santri akan merasa senang bisa mati demi kiayinya.

Keadaan diatas tidak mengherankan, apalagi jika mengenal teori ekonomi, manusia emang selalu dalam keadaan gundah atau keluh kesah (cek Al-Quran 70:19), hal inilah yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk merasa aman, hal ini diabadikan dalam teori kuno maslow, walaupun diperdebatkan, diakui atau tidak perilaku manusia yang ada didunia kapitalis hidup dalam bayang2 teori maslow tersebut, kelemahan utama dari teori ini dan teori yang sejenis adalah kurang visionary, teori ini hanya berdasarkan asumsi orang hanya hidup didunia, karena emang susah nyebarin questioner di alam kubur atau akhirat, kalaupun kita titipkan ke orang mati kebanyakan egak dikembalikan, kalaupun ada yang ngisi dan ngembaliin kitanya dah pingsan atau serangan jantung duluan. intinya teori-teori tersebut tidak cocok bagi orang yang percaya pada kehidupan setelah kematian. Sayangnya banyak sekali orang yang percaya dengan kehidupan setelah kematian bersuka-cita dan bangga terjebak teori-teori yang gak cocok untuknya.

Pernyataan diatas mungkin dianggap mengada2 atau hanya ungkapan kuno, tapi coba lakukan riset berapa banyak orang tua yang mengajak anaknya secara rutin (mingguan, bulanan, tahunan) ke mall, taman bermain, dan tempat wisata, kemudian bandingkan dengan orang tua yang secara rutin mengajak anaknya ke pesantren. Tapi apa yang orang tua itu lakukan ketika berdoa meminta anak atau untuk anaknya " ya 4JJI berilah aku keturunan yang soleh". Coba anda tanya setiap muslim tentang apa tujuan 4JJI menciptakan mereka, kemungkinan besar "untuk beribadah" (kadang jawabnya pake bahasa arab) atau tanya mau masuk surga? kalau yang ditanya orang normal pasti bilang "mauuuuu". tapi kemudian tanya seberapa lama waktu belajarnya digunakan untuk belajar agama? (aqidah, fiqih dll). seberapa sering dia ke sekolah/kampus?. jika ditanya tentang pesantren pasti bilang kan ada ceramah di tv, tiap subuh dan magrib. apakah anda yakin bisa menjadi insinyur, kalau hanya tiap subuh dan magrib nonton Discovery Channel? kebanyakan Manusia emang bodoh (cek Al-Quran 33:72)

maaf dan ditunggu koreksinya jika ada yang salah, hanya 4JJI yang berhak benar.

waasss