Friday, August 21, 2009

Mengenal Pesantren (blog edisi ramadhan)

Jika saya tulis blog ini dua puluh tahun lalu, mungkin akan dianggap aneh, selain waktu itu belum ada yang namanya blog, juga waktu itu akan terlihat aneh jika ada orang yang tidak tahu apa itu pesantren, sekarang banyak sekali kenalan saya yang muslim yang seumur hidupnya belum pernah ke pesantren bahkan tidak tahu apa itu pesantren.

Istilah pesantren beberapa tahun terakhir agak lumayan muncul ke permukaan, pertama karena ada lagu kasidah berjudul "suasana dikota santri" yang dinyanyikan ulang oleh kelompok musik terkenal Gigi, kedua adanya pesantren yang cukup unik, heboh dan penomenal yang dipimpin oleh satu-satunya kiayi yang masuk majalah Time, K.H Abdulah Gymnasiar, ketiga beberapa waktu ini persiden negara adi kuasa senang menyebut pesantren tapi sayang dalam konteks sebagai sarang dan pencetak para pelaku yang mengakibatkan rasa takut.

Pesantren merupakan istilah/sebutan untuk lembaga/organisasi yang menyelenggarakan pendidikan agama islam, beda dengan sekolah formal seperti SD, SMP dll; di pesantren biasanya siswa diharuskan untuk menginap (full day-night school /boarding school), itulah kenapa pesantren sering disebut pondok pesantren.

Saat ini dikenal dua jenis pesantren yaitu; pesantren salaf/tradisional dan pesantren modern. hal utama yang membedakan dua jenis pesantren tersebut adalah sertifikat atau izasah, pesantren modern biasanya menyatukan pendidikan agamanya dengan pendidikan sekolah formal (ini istilah yang kurang tepat) sehingga siswa bisa mendapatkan sertifikat/izasah yang diakui departemen pendidikan/agama untuk melanjutkan sekolah di sekolah formal. Pesantren salaf tidak mengenal sertifikat/izasah, tolak ukur sukses bagi siswa di pesantren jenis ini adalah jika sudah bisa mengajar atau mendirikan pesantren.

Tolak ukur keberhasilan yang berbeda juga mengakibatkan waktu belajar di dua jenis pesantren tersebut berbeda. Di Pesantren modern lama belajar biasanya sama dengan sekolah formal (SMP/SMA) kadang ditambah masa pengabdian selama 1 tahun, sedangkan di pesantren salaf masa belajar tergantung kebutuhan dan kemampuan siswa, 15-25 tahun adalah hal biasa untuk bisa menjadi seorang kiayi pemula, memang terlihat lama, tapi ini bukan karena metode belajar yang kurang efektif, ini karena selain faktor knowledge dan skill di pesantren salaf faktor character building, attitude dan kesiapan mental untuk terjun ke masyarakat sangat diperhatikan. Hal ini juga mengakibatkan perbedaan dalam pola pendidikan, di pesantren modern biasanya siswa sebisa mungkin dijauhkan dari masyarakat sampai dia lulus, sedangkan di pesantren tradisional, siswa yang sudah cukup senior sesegera mungkin dilatih untuk membaur dengan masyarakat, biasanya diminta pimpinan pesantren untuk mengajar diberbagai pengajian sekitar pesantren atau di kampung halamannya.

Pesantren biasanya dipimpin oleh guru/pengajar yang paling pintar dan senior yang biasanya mendapat sebutan kiayi. karena kebanyakan sudah melaksanakan ibadah haji jadi suka disatukan Kiayi Haji atau disingkat K.H. pemimpin pesantren biasanya bersifat turun-temurun seperti kerajaan, seperti juga sebuah kerajaan hal ini kadang juga mengakibatkan perpecahan dalam pesantren.

Siswa yang belajar di pesantren disebut santri (santriwan/santriwati), di pesantren salaf ada istilah santri kalong (kelelawar), sesuai namanya, yaitu yang datang ke pesantren malam hari aja atau siang hari aja untuk mengaji. beberapa pesantren salaf tidak menerima santri seperti ini karena selain tidak efektif juga kadang-kadang menimbulkan masalah karena egak bisa diawasi secara penuh oleh pesantren.

Biaya pendidikan dipesatren modern biasanya sudah diatur dengan jelas, uang pendidikan, biaya makan dan dll. sedangkan di pesantren tradisional biaya biasanya tergantung kesadaran/kemampuan orang tua siswa, kadang yang diwajibkan hanya uang listrik atau air jika uang kiayi dan donatur tidak cukup, bahkan tidak sedikit pesantren tradisional yang biaya operasinya 100% ditanggung kiayi atau donatur. karena perbedaan diatas pengajar di pesantren modern biasanya mendapatkan gaji yang tetap dan tunjangan-tunjangan, sedangkan pengajar di pesantren salaf tidak mendapatkan gaji alias suka-rela. dibeberapa tempat ada tradisi kalau abis pulang kampung/liburan para santri suka memberikan oleh2 kepada pak kiayi, biasanya makanan khas dari tempat asal santri dan tidak jarang di sertai pakaian atau uang.

Kondisi pesantren saat ini sebagian besar memprihatinkan, terutama pesantren salaf sudah banyak sekali pesantren salaf yang bubar, berubah jadi pesantren modern atau menjadi sekolah biasa. Banyak sekali hal yang mengakibatkan hal ini terjadi terutama semakin rendahnya minat orang tua muslim di Indonesia untuk mamasukan anaknya ke pesantren terutama ke pesantren salaf, bahkan beberapa pesantren salaf sekarang hanya menjadi tempat penampungan anak yang egak mampu membayar biaya sekolah formal atau anak bermasalah korban narkoba. Kondisi ini tentu tragis karena tujuan pesantren adalah menciptakan para kiayi yang akan menjadi pimpinan&panutan umat. Jadi wajar kalau sekarang amat sangat sulit sekali menemukan kiayi seperti Hamka, Kiayi Muhammad Agus Salim. Anak yang masuk pesantren harusnya adalah anak terbaik dan terpilih yang nantinya biasa membantu dan membimbing masyarakat.

Saya sering sekali mendengar ungkapan "aduh anaknya pintar, sayang sekali kenapa egak disekolahkan supaya jadi insinyur, dokter, dosen dsb", atau "Anakmu pintar masukin aja ke ITB, UI, UGM, Oxford, Harvard MIT dll" tapi hampir tidak pernah saya mendengar ungkapan "Anaknya pintar pesatrenin aja supaya jadi kiayi". Padahal kalau saya tanya semua orang pasti pingin masuk surga, untuk masuk surga harus jadi orang soleh(ah), untuk soleh(ah) harus tahu dan paham ilmu agama, untuk paham ilmu agama butuh bimbingan kiayi yang berkualitas. tanggu jawab kiayi jauh lebih besar dibanding orang lulusan Oxford, Harvard atau ITB, coba pikirkan berapa banyak orang yang bisa diobati dokter, berapa banyak orang yang mendengarkan seminar yang di sampaikan fakar IT, fakar Kesehatan, fakar ekonomi bandingkan dengan jumlah orang yang mendengarkan dakwah yang disampaikan kiayi. pernahkan mendengar istilah "dokter sejuta umat" atau "programmer sejuta umat" atau "ekonom sejuta umat" tapi pasti pernah mendengar "kiayi sejuta umat". pernah mendengar "mahasiswa mati demi ekonom" atau "pemuda mati demi system analyst" atau "perawat mati demi dokter". banyak santri akan merasa senang bisa mati demi kiayinya.

Keadaan diatas tidak mengherankan, apalagi jika mengenal teori ekonomi, manusia emang selalu dalam keadaan gundah atau keluh kesah (cek Al-Quran 70:19), hal inilah yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk merasa aman, hal ini diabadikan dalam teori kuno maslow, walaupun diperdebatkan, diakui atau tidak perilaku manusia yang ada didunia kapitalis hidup dalam bayang2 teori maslow tersebut, kelemahan utama dari teori ini dan teori yang sejenis adalah kurang visionary, teori ini hanya berdasarkan asumsi orang hanya hidup didunia, karena emang susah nyebarin questioner di alam kubur atau akhirat, kalaupun kita titipkan ke orang mati kebanyakan egak dikembalikan, kalaupun ada yang ngisi dan ngembaliin kitanya dah pingsan atau serangan jantung duluan. intinya teori-teori tersebut tidak cocok bagi orang yang percaya pada kehidupan setelah kematian. Sayangnya banyak sekali orang yang percaya dengan kehidupan setelah kematian bersuka-cita dan bangga terjebak teori-teori yang gak cocok untuknya.

Pernyataan diatas mungkin dianggap mengada2 atau hanya ungkapan kuno, tapi coba lakukan riset berapa banyak orang tua yang mengajak anaknya secara rutin (mingguan, bulanan, tahunan) ke mall, taman bermain, dan tempat wisata, kemudian bandingkan dengan orang tua yang secara rutin mengajak anaknya ke pesantren. Tapi apa yang orang tua itu lakukan ketika berdoa meminta anak atau untuk anaknya " ya 4JJI berilah aku keturunan yang soleh". Coba anda tanya setiap muslim tentang apa tujuan 4JJI menciptakan mereka, kemungkinan besar "untuk beribadah" (kadang jawabnya pake bahasa arab) atau tanya mau masuk surga? kalau yang ditanya orang normal pasti bilang "mauuuuu". tapi kemudian tanya seberapa lama waktu belajarnya digunakan untuk belajar agama? (aqidah, fiqih dll). seberapa sering dia ke sekolah/kampus?. jika ditanya tentang pesantren pasti bilang kan ada ceramah di tv, tiap subuh dan magrib. apakah anda yakin bisa menjadi insinyur, kalau hanya tiap subuh dan magrib nonton Discovery Channel? kebanyakan Manusia emang bodoh (cek Al-Quran 33:72)

maaf dan ditunggu koreksinya jika ada yang salah, hanya 4JJI yang berhak benar.

waasss




2 comments:

Anonymous said...

Total Control sepotong Marketing Review-Besar detail yang Anda telah diterima? Di artikel situs. Berharap aku bisa mendapatkan lebih banyak hal di situs web Anda sendiri. Aku akan tiba lagi.

Anonymous said...

mau tanya, persamaan dan perbedaan antara pesantren salaf dengan pesantren modern itu apa ya?? mohon jawabanya